Dasar – Dasar Logika (DasLog)

BAGAIMANA orang berpikir ? Wah, itu sich pertanyaan bodoh (kata sebagian besar ‘orang yang pintar’). “Orang berpikir karena dia mempunyai akal,” begitu jawabnya. Jawaban tersebut tentu tidaklah salah, hanya terlalu sederhana jika dijabarkan dan dikaitkan dengan Ilmu Logika (Logics). Pemahaman tentang logika berpikir tidaklah sesederhana menangkap apa yang menjadi ‘buah pemikiran’ seseorang dalam bentuk ucapan atau tulisan. Logika adalah ilmu yang mempelajari tentang hukum – hukum, patokan – patokan, rumus – rumus berpikir. Psikologi juga membicarakan aktivitas berpikir, karena itu kita haruslah hati-hati melihat persinggungannya dengan Logika. Psikologi mempelajari pikiran dan kerjanya tanpa menyinggung sama sekali urusan benar salah. Sebaliknya urusan benar – salah menjadi masalah pokok dalam Logika (Mundiri, 2001).

Logika tidak mempelajari cara atau metode berpikir dari semua ragamnya, tetapi pemikiran yang paling sehat dan praktis. Banyak jalan pemikiran kita dipengaruhi oleh keyakinan, pola berpikir kelompok, kecenderungan pribadi, pergaulan dan sugesti. Juga banyak pemikiran yang diungkapkan sebagai luapan emosi seperti caci maki, kata pujian atau pernyataan keheranan dan kekaguman. Ada juga pemikiran yang diungkapkan dengan argumentasi yang secara sepintas kelihatan benar untuk memutar – balikkan kenyataan dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi maupun golongan.

Logika menyelidiki, menyeleksi, dan menilai pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta bertujuan untuk mendapatkan kebenaran, terlepas dari segala kepentingan dan keinginan perorangan. Logika merumuskan serta menerapkan hukum – hukum dan patokan – patokan yang harus ditaati agar seseorang dapat berpikir benar, efisien, sistematis, dan teratur. Dengan demikian ada dua obyek penyelidikan Ilmu Logika (Ilmu Mantiq), Pertama, Pemikiran sebagai obyek material. Kita mengenalnya dengan nama Logika Material (al-Mantiq al-Maddi) dan Yang Kedua, Patokan-patokan atau hukum – hukum berpikir benar sebagai obyek formalnya, yang disebut Logika Formal (al-Mantiq as-Suwari ).

Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk berbeda secara radikal yakni dari cara berpikir umum ke khusus (deduktif) dan dari cara berpikir khusus ke umum (induktif). Cara berpikir deduktif dipergunakan dalam logika formal yang mempelajari dasar – dasar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan menggunakan hukum – hukum, rumus – rumus, patokan – patokan berpikir benar sedang cara berpikir induktif dipergunakan dalam logika material yang mempelajari dasar – dasar persesuaian pikiran dengan kenyataan (penyesuaian idealita dengan realita).

Dengan kata lain, menilai hasil pekerjaan logika formal dan menguji validitasnya dengan fakta empiris. Lantas, mungkinkah kita mempelajari ‘hal yang abstrak’’ yang disebut pikiran itu ? Manusia bukanlah wujud spiritual murni, tetapi merupakan perpaduan antara wujud jasmani dan rohani. Karena itu ia memerlukan sarana material untuk menangkap ‘pikiran yang abstrak’ itu. Kita tidak mungkin memahami pikiran seseorang kalau tidak diwujudkan dalam bentuk ucapan, tulisan atau isyarat. Isyarat adalah perkataan yang dipadatkan, karena itu ia adalah perkataan juga. Jadi pikiran dan perkataan adalah identik, tidak berbeda satu sama lain dan bukan tambahan bagi masing – masingnya. Terkadang orang mengatakan, “Pikiran adalah perkataan dan perkataan adalah pikiran.”

Angan – angan, khayalan, pikiran yang berkecamuk dalam dada dan kepala kita tidak lain adalah bisikan kata yang amat lembut. Kata – kata yang mewakili pikiran ini bukan sekedar coretan pena yang dituliskan atau suara gaduh yang diucapkan, tetapi merupakan susunan kata yang mewakili maksud tertentu yang lengkap (Proposisi). Pengetahuan kita tidak lain adalah informasi proposisi – proposisi. Dalam aktivitas berpikir (thinking process) kita selalu membanding, menganalisis serta menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya. Dengan demikian penyelidikan logika dalam mencari kebenaran pemikiran selalu berurusan dengan struktur dan relasi proposisi.

Rahasia Logika berpikir sebenarnya terletak pada bagaimana memaksimalkan fungsi otak kiri dan otak kanan yang berkorelasi positif terhadap proses pengambilan keputusan dan perilaku kepemimpinan. Belahan otak kiri beroperasi secara rasional (intelectual capabilities), ia menerima informasi sedikit demi sedikit dan langsung mengolahnya, seperti mendengarkan laporan bawahan, membaca laporan telaahan staf, memahami ceramah, dan lain sebagainya. Otak kiri itu juga mengawasi komunikasi lisan, disamping penalaran logis dan matematis. Sedangkan, belahan otak kanan beroperasi secara intuitif, memimpikan dan merasakan dalam total pencitraan terhadap sesuatu, kemampuan dan jiwa seni (art capabilities) seseorang dikontrol oleh otak kanan ini. Otak kanan itu mengontrol kreatifitas dan kemampuan artistik.

Logika berpikir dapat disistematisasikan menjadi beberapa kategori, tergantung darimana kita meninjaunya. Dilihat dari segi kualitasnya. Logika (dalam Bahasa Arab dikenal dengan nama Mantiq) dibedakan menjadi Logika Naturalis (Mantiq al-Fitri) dan Logika Artifisialis atau Logika Ilmiah (Mantiq as-Suri). Logika Naturalis yaitu kecakapan berpikir berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia. Akal manusia yang normal berarti dapat bekerja secara spontan sesuai hokum – hukum logika dasar sedang Logika Ilmiah (science logic) memperhalus, mempertajam serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah dan aman.

Dilihat dari metodenya, Logika dibedakan atas Logika Tradisional (Mantiq al-Qadim) dan Logika Modern (Mantiq al-Hadis). Logika (logics) mempelajari cara bernalar yang benar dan kita tidak bisa melaksanakannya tanpa memiliki dahulu pengetahuan yang menjadi premisnya. Bila kita mencoba membandingkannya dengan sebuah bangunan, maka premis itu adalah batu, pasir dan semennya ; Sedangkan proses penalaran itu dapat kita samakan dengan bagan atau arsitekturnya (Mundiri, 2001). Dengan semen, batu dan pasir serta arsitektur yang baik akan dihasilkan bangunan yang indah dan kokoh. Dengan premis yang dapat dipertanggung-jawabkan dan melalui proses penalaran yang sah akan dihasilkan kesimpulan yang benar. (Gorys Keraf, 1982 dalam Makkulau, 2004)

[sumber: kompasiana.com]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: