Mengamati Media seputar kasus Xenia Maut

Soal kemampuan tivi menciptakan visual image tidak perlu diragukan lagi, tetapi pada kasus tabarakan maut di halte Tugu Tani yang menewaskan 9 orang kita dibawa dalam satu keadaaan dimana tidak hanya terjadi transfer visual dalam kejadian itu tetapi juga dampak emosional yang ditembakkan terus-menerus selama hampir satu minggu.

Dampak emosional ini mengingat kita lewat komunikasi perasaan (communication of feeling) melalui visualisasi kengerian (thriller), keterkejutan (shock), ketakutan (horor), kesedihan (sadness), kemarahan (anger), kebencian (hatred).

Bisa kita saksikan stasiun tivi berlomba-lomba mengambil sudut-sudut gambar dengan awalnya berpegang pada prinsip jurnalistik 5W1H, dimana agenda settingnya berubah setiap hari:

Hari pertama , para wartawan dikirim ke lokasi, mengambil gambar korban, pelaku, saksi dan setting kejadian.

Hari kedua: korespon bergerak ke lokasi perawatan, rumah duka,

Hari ketiga: Studio mempersiapkan tele-wawancara via ponsel ekslusif keluarga. korban. Mengambil shoot komentar orang2 di jalan, run text: berisi simpati atas korban dan hujatan terhadap pelaku. Produser menanyai pengunjung kiranya mereka punya stok film atau gambar saat kejadian yang mungkin dibuat dengan kamera ponsel.

Hari keempat: Penayangan citizen journalism, video2 bebas seputar kejadian. Studio “mengadili” dan memaksa confession keluarga pelaku secara langsung. Memanggil dokter dan ahli narkoba sebagai narasumber.

Hari kelima: Menkominfo mendesak perda miras dibatalkan karena terbukti pelaku membunuh 9 orang . Pemda menyanggupi seluruh biaya RS dan menolak membicarakan soal perdamirah karena masih diurus DPRD. Pengadilan Nazarudin, lalu soal toilet Banggar DPR lagi.

Apabila kita telaah kita ada yang aneh (sekali lagi teori-teori media agak kurang bekerja di Indonesia) hari pertama sampai hari ketiga jurnalisme masih bersifat birokratis dimana tata kelola berita masih mengikuti kaidah news telling: news making-interpretating-socialization-persuasion: menginformasikan masyarakat apa yang dianggap berita.

Pada hari keempat muncul agenda setting dimana media terlibat mendefiniskan masalah di masyarakat namun ini uniknya, media menyerahkan kepada publik lewat citizen journalism untuk menciptakan usulan-usulan solusi dari masalah yang terjadi.

Ini menarik bila awalnya berita bersifat hirarkis dia berubah menjadi spontan (aneka komentar dan emosi), yang awalnya materialistis (bahan2 berita saja) ia menjadi humanis (video bapak korban yang memasukkan dot susu ke mulut anaknya yg sudah meninggal dan pengakuan maaf dari keluarga).

Ini artinya media melakukan tranformasi cepat dengan menciptakan spirit of solidarity dan kekeluargaan dari satu kejadian sebelumnya dimana ada semangat menang atau kalah (korban vs pelaku, pelaku vs audien). Barangkali masyarakat kita sedang menuju kedewasaan bermedia sebagaiaman ciri dari masyarakat kontemporer.

Yang anehnya adalah pada hari kelima, menteri PKS itu merasa tragedi xenia maut terkait dengan perda miras. Ini artinya dia melihat dapat diciptakan agenda setting baru mengait-kaitkan satu masalah dimedia dengan kejadian lain. Hal-hal yang benar-benar culun sering terjadi juga di masyarakat kontemporer yang tengah belajar menjadi dewasa.

(Tulisan  dari catatan Status Fb: Andi Hakim pada 26 Januari 2012)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: